Kamis, 18 Oktober 2012

Chapter 26 - Another Fan Fict About Ochi :)

Gila, bosen banget gua malem ini. Disuruh belajarlah, ini lah, itu lah, langsung aja gua bikin nih fanfict. Siapin nachoes, here we goes!!
Aku mengayuh sepeda ku dengan kecepatan penuh seperti pembalap. Hari mulai gerimis sedangkan rumah masih jauh. “Yaelah orang udah bawa mobil, lah gue masih bawa sepeda.” Ucapku sambil tetap mengayuh sepeda ku. Bukan karena aku tidak mampu membeli sebuah mobil tapi usia ku belum cukup untuk membawa kendaraan ber SIM. Tidak masalah sih bawa sepeda Cuma aku lelah mengayuhnya. Aku mengayuh sepeda ku lebih cepat, di sebuah halte aku melihat seorang gadis sedang duduk sendiri. Aku menoleh ke arahnya sangat lama. “Ah siapa itu cantik sekali.” Ucapku dalam hati sambil mengayuh sepeda dengan pelan. Aku kepikiran gadis yang kulihat tadi hingga akhirnya samppai di rumah dengan basah kuyup. “Irit air di rumah deh kalo udah gini. Ga perlu mandi lagi!” Ucapku sambil turun dari sepeda dan masuk ke dalam rumah. Lalu aku masuk ke kamar dan merapikan diriku lalu mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kemabli aku kepikiran gadis cantik di halte tadi. “Apa harus buat FTV judulnya “Aku Bertemu Cinta di Halte.” Aku berpikir sejenak. “Ga elit banget ketemunya di halte.” Aku mengeleng-gelengkan kepala ku. Aku makin penasaran dengan nama gadis itu, gadis yang berparas manis dengan wajah yang cantik. Sedang duduk manis di sebuah halte, menunggu sang pangeran. “Supir angkot ?” Aku pun memilih untuk tidur, daripada aku di sangka gila karena bicara sendiri dari tadi.
*
Kembali hari ini aku akan mengayuh sepeda ku. Tapi kali ini tidak tau kenapa ada sebuah semangat positif dalam diri ku. aku pun mulai mengayuh sepeda untuk berangkat ke sekolah. “Bersepeda ku menanjaki bukit itu, sekuat tenaga ku kayuh pedalnya. Angin pun mulai menghembus kemejaku, ku rasa masih kurang cepat. Akhirnya ku sadari perasaan sebenarnya…” Suara wanita- wanita cantik terdengar dari Android ku, maka bertambahlah semangat ku. Aku pun sampai di sekolah, Aku turun dan segera masuk ke kelas. Pelajaran di mulai, aku memang berada di dalam kelas, tapi pikiran ku sudah jauh melayang entah ke mana. “Gadis itu, Halte, haha.” Aku berbisik pada diriku sendiri. Ini jam pelajaran terakhir, aku sangat merasa bosan dan ingin cepat-cepat keluar dari kelas, dan ke Halte. “Ayo dong bel bunyi.” Harapku dalam hati sambil mencatat pelajaran yang sangat membosankan. “Trengggggg.” Bel berbunyi, hati ku bernyanyi. “Aitakatta Aitakatta Yes, dengan muuuu.” Lantun ku dalam hati sambil bergegas ke parkiran untuk kembali mengayuh sepedaku. “Demi gadis di halte, demi gadis di halte.” Ucapku sambil berusaha mengayuh sepedaku di tengah terik matahari. “Eh tapi kalo gadis di haltenya berubah jadi nenek-nenek gimana ?” Pikirku sambil mengertutkan dahi. “Ah biarlah.” Aku kembali mengayuh sepedaku dengan semangat. Halte kemarin mulai dekat, hati ku makin dag dig dug, tak tau kenapa. Ini perasaan apa ? “Sedikit lagi.” Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Lalu menayuh sepedaku pelan. “Ahh cantik sekali, panas pun berubah menjadi sejuk sekali.” Aku kembali melihat gadis kemarin sedang berdiri sambil melihat jam di tangan kirinya. Seperti menunggu seseorang. Jarak ku dengan halte itu cukup dekat. Makan jika ia bebicara aku bisa mendengranya dengan jelas. “Lama banget sih.” Ucapnya sambil melihat ke arah jalan yang membelakangi ku. Dari kejauhan nampak seorang lelaki dengan sepeda motor ninja hitamnya. Ia berhenti di depan gadis itu. “Ochi udah lama ya ?” ucap lelaki itu sambil memberi helm kepada gadis yang bernama Ochi itu. Lau Ochi naik ke motor itu, lalu mereka pergi meninggalkan halte tersebut. Perasaan ku langsungberubah, aku jadi merasa  tidak suka jika melihatnya bersama lelaki itu. “Hmm..” Aku kembali mengayuh sepedaku dan pulang ke rumah. Dengan perasaan yang senang dan sedih, senang karena bisa bertemu gadis itu lagi dan sedih ternyata dia sudah ada yang punya. “Ini namanya perasaan apa ?” Aku kembali bertanya-tanya jauh pada diriku sendiri.
*
Hari menunjukan pukul 7 pagi, hari ini Minggu. Aku merasa sangat ngantuk dan malas untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi ada sesuatu yang meminta ku untuk bangun dan kembali bersepeda. Aku amndi dan pergi bersepeda. “Buat apa coba main sepeda lagi.” Aku malah bingung sendiri. “Kemana ya ? Hmm ke halte aja deh, tau aja ntar ketemu Ochi.” Ucapku sambil mengayuh sepedaku. Dan keberuntungan sedang berpihak padaku, gadis itu sedang berada di halte tapi sendirian. “Kesana ga ya ?” Aku punmemberanikan diri mendekat kepadanya. “Hey.” Ucapku SKSD. Ochi menoleh ke arah ku. “Hey..” Balas Ochi dengan wajah agak sedih. “Lagi sedih ya ?” Tanya ku. Ochi mengangguk kecil. “Apa yang membuat kamu sedih ?” Tanyaku penasaran. “Pacar..” Ucapnya singkat dan menoleh ke arah ku. “Haha, pacar ? Kalo ga mau sakit hati, ya jangan jatuh cinta aja..” Balasku santai. Ia menoleh dengan wajah bingung. “Cinta itu gitu-gitu aja kok. Udah lah dari pada sedih mending bersepeda biar sehat dan kuat.” Ucapku sambil menunjuk sepeda ku. ia tersenyum dan mengangguk. “Aku bonceng kamu ya..” “Aku berat loh.” Ucap Ochi. “Seberat apapun kamu kalo dilakukan dengan cinta aku pasti kuat kok.” Ucapku dalam hati. “Hahaha, engga apa-apa udah biasa kok. Siap yaa” Balasku. “Oke deh..” Ochi duduk menyamping di depan ku. “Ahh sepedaku tak kalah keren kan dari ninja hitam kemarin.” Ucapku keceplosan. “Maksudnya ? Kok kamu tau ?” Tanya Ochi dengan nada bingung. “Aku cari tau di Google.” Balasku bercanda. Ochi tertawa. Aku pun senang. “Kamu itu aazzek.” Balas Ochi. “Aku udah tau ini namanya perasaan apa. Haha.” Ucapku dalam hati, sambil mengayuh sepeda ku dengan pelan, juga sambil ngobrol dengan Ochi.
Ahh indahnya.
Gimana? Ini udah mulai bagus? Azzeekk. Makasih udah baca fanfict ini! Gua mau lanjut ngeprint. Arigatou!! :))
(©Anonymous48Project)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar